PERKEMBANGAN PENDUDUK INDONESIA & ILMU TEKNOLOGI DAN PENGETAHUAN LINGKUNGAN
PERKEMBANGAN PENDUDUK
INDONESIA
&
ILMU TEKNOLOGI DAN
PENGETAHUAN LINGKUNGAN
MAKALAH
Logo/Gambar
BY:
Nama : Arief Noor Rizki Kurniawan
JURUSAN TEKNIK ELEKTRO
KATA PENGANTAR
Pertama-tama marilah
kita panjatkan Puji serta syukur kita atas kehadiran allah swt karena
berkat rahmat dan karunianya maka penulis dapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul
“PERKEMBANGAN PENDUDUK INDONESIA & ILMU TEKNOLOGI DAN PENGETAHUAN
LINGKUNGAN”
Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas
mata kuliah yang diberikan didalam pembelajaran kuliah ini.
Dalam pembuatan makalah ini tidak
terlepas dari bantuan berbagai pihak yang ikut membantu dalam menghadapi
hambatan yang penulis terima selama mengerjakan makalah ini. Oleh karna itu
tidak lupa penulis ucapkan terima kasih yang sebesar besarnya kepada semua
pihak yang ikut turut membantu dalam penyusunan makalah ini hingga selesai.
Diharapkan makalah ini dapat berguna dan
memberikan manfaat bagi kita semua khususnya dalam
mempelajari Perkembangan Penduduk Indonesia Dan Ilmu Teknologi Dan
Pengetahuan lingkungan.
Demikianlah makalah
ini penulis buat. Mohon maaf jika masih terdapat kesalahan kata atau penulisan
maupun kekurangan dalam makalah ini dan akhir kata penulis ucapkan terima kasih
Daerah, tanggal bulan tahun
Nama
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR…………………………………………………………………
2
DAFTAR ISI ………………………………….………………………………………
3
BAB I : PENDAHULUAN
·
Latar Belakang ……………….…………………………………………….. 4
·
Maksud dan Tujuan ………………….……………………………………… 5
·
Ruang Lingkup Masalah …………….…………………………………….. 5
BAB II : PEMBAHASAN
2.1. PERKEMBANGAN PENDUDUK INDONESIA
………………………..…. 6
1.
Landasan Perkembangan Penduduk Indonesia ……………….……… 6
2.
Pertambahan Penduduk dan Lingkungan Pemukiman ……..………. 7
3.
Pertumbuhan Penduduk dan Tingkat Pendidikan ……………………. 9
4.
Petumbuhan Penduduk dan Penyakit yang Berkaitan dengan
Lingkungan Hidup ………………………………………………………… 10
1.
Pertumbuhan Penduduk dan Kelaparan ………………………..……. 11
2.
Kemiskinan dan Keterbelakangan ………………………………….…. 12
2.2. ILMU TEKNOLOGI DAN PENGETAHUAN LINGKUNGAN
1.
Keberlanjutan Pembangunan ……………………………………………. 13
2.
Mutu Lingkungan Hidup Dan Resiko …………………………………… 15
3.
Kesadaran Lingkungan ……………………………………………………. 16
4.
Hubungan Lingkungan Dan Pembangunan …………………………… 18
5.
Pencemaran Dan Perusakan Lingkungan Hidup Oleh Proses Pembangunan. 19
BAB III : PENUTUP
3.1 Kesimpulan……………………………………………………………. 20
Daftar Pustaka ……………………………………………………………………
21
BAB I
PENDAHULUAN
1) Latar Belakang
Laju
pertumbuhan penduduk merupakan permasalahan krusial yang dihadapi oleh
negara-negara berkembang di dunia, khususnya negara-negara berpenduduk besar
dan padat sperti Indonesia. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan data dasar
yang diperoleh mengenai jumlah kelahiran, sehingga diperlukan berbagai upaya
yang berkesinambungan untuk menurunkan laju pertumbuhan penduduk. Indonesia
sebagai suatu negara yang sedang berkembang dengan penduduk terbesar nomor
empat di dunia, juga menghadapi persoalan yang serupa.
Laju pertumbuhan
penduduk di Indonesia senantiasa mengalami peningkatan. Hal ini tercermin dari
hasil sensus penduduk 2010, Indonesia menunjukkan gejala ledakan penduduk.
Jumlah penduduk Indonesia tahun 2010 tercatat 237,6 juta jiwa dengan laju
pertumbuhan 1,49 persen pertahun, sementara pada tahun 2008 masih tercatat
288,53 juta jiwa. Laju pertumbuhan penduduk ini jika tetap pada angka itu, pada
2045 jumlah penduduk Indonesia diperkirakan mencapai 450 juta jiwa. Peningkatan
penduduk yang tinggi ini akan mengakibatkan permasalahan jika tidak
dikendalikan (BKKBN, 2010).
Pengetahuan adalah
informasi atau maklumat yang diketahui atau disadari oleh seseorang. Dalam
pengertian lain, pengetahuan adalah berbagai gejala yang ditemui dan diperoleh
manusia melalui pengamatan akal. Pengetahuan muncul ketika seseorang
menggunakan akal budinya untuk mengenali benda atau kejadian tertentu yang
belum pernah dilihat atau dirasakan sebelumnya.
Teknologi adalah metode ilmiah untuk
mencapai tujuan praktis; ilmu pengetahuan terapan atau dapat pula diterjemahkan
sebagai keseluruhan sarana untuk menyediakan barang-barang yang diperlukan bagi
kelangsungan dan kenyamanan hidup manusia. Dalam memasuki Era Industrialisasi,
pencapaiannya sangat ditentukan oleh penguasaan teknologi karena teknologi
adalah mesin penggerak pertumbuhan melalui industri. Sebagian beranggapan
teknologi adalah barang atau sesuatu yang baru namun, teknologi itu telah
berumur sangat panjang dan merupakan suatu gejala kontemporer. Setiap zaman
memiliki teknologinya sendiri.
Seiring waktu perkembangan ilmu
pengetahuan alam mempunyai pengaruh yang besar terhadap perkembangan teknologi.
Pada hakikatnya, teknologi merupakan alat untuk membantu manusia dalam mencapai
tujuan secara ilmiah. Semakin besar teknologi yang diciptakan dan dikembangkan
semakin besar pula polusi dan pencemaran yang dihasilkan. Hal ini terjadi
karena tidak adanya penanganan yang tepat serta penggunaan teknologi yang baik.
Seharusnya perkembangan teknologi yang semakin maju ini dapat dimanfaatkan
dalam berbagai bidang yang dapat membantu kehidupan manusia.
2) Maksud
dan Tujuan
Tujuan dari
penulisan makalah ini adalah agar kita dapat memahami bagaimana perkembangan
pertumbuhan penduduk di Indonesia saat ini serta dampak dari pertumbuhan
penduduk itu terhadap berbagai bidang.
3) Ruang
Lingkup
Adapun ruang lingkup
masalah yang akan dibahas pada makalah kali ini sebagai berikut:
A.PERKEMBANGAN PENDUDUK INDONESIA
1.
Landasan Perkembangan Penduduk Indonesia
2.
Pertambahan Penduduk dan Lingkungan Pemukiman
3.
Pertumbuhan Penduduk dan Tingkat Pendidikan
4.
Petumbuhan Penduduk dan Penyakit yang Berkaitan dengan Lingkungan Hidup
5.
Pertumbuhan Penduduk dan Kelaparan
6.
Kemiskinan dan Keterbelakangan
B. ILMU TEKNOLOGI DAN PENGETAHUAN
LINGKUNGAN
1. Keberlanjutan Pembangunan2.
2. Mutu Lingkungan Hidup Dan Resiko
3.Kesadaran Lingkungan
4. Hubungan Lingkungan Dan Pembangunan
5. Pencemaran Dan Perusakan Lingkungan Hidup Oleh Proses Pembangunan.
1. Keberlanjutan Pembangunan2.
2. Mutu Lingkungan Hidup Dan Resiko
3.Kesadaran Lingkungan
4. Hubungan Lingkungan Dan Pembangunan
5. Pencemaran Dan Perusakan Lingkungan Hidup Oleh Proses Pembangunan.
BAB II
PEMBAHASAN
1.
Perkembangan Penduduk Indonesia
A. Landasan Perkembangan Penduduk Indonesia
A. Landasan Perkembangan Penduduk Indonesia
Pertumbuhan penduduk
adalah perubahan jumlah penduduk di suatu wilayah tertentu pada waktu tertentu dibandingkan
waktu sebelumnya Adapun faktor – faktor yang mempengaruhi pertumbuhan penduduk
adalah kelahiran, kematian, dan perpindahan penduduk. Kelahiran dan kematian
dinamakan faktor alami sedangkan perpindahan penduduk adalah faktor non alami.
Migrasi ada dua yaitu migrasi masuk yang artinya menambah jumlah penduduk
sedangkan migrasi keluar adalah mengurangi jumlah penduduk. Migrasi itu biasa
terjadi karena pada tempat orang itu tinggal kurang ada fasilitas yang memadai.
Selain itu juga kebanyakan kurangnya lapangan kerja. Maka dari itu banyaklah
orang yang melakukan migrasi.Sehingga dalam masalah ini ,maka penduduk akan
dihadapi dengan masalah lingkungan hidup, pertumbuhan penduduk dan kelaparan,
serta kemiskinan dan keterbelakangan.
Dari hasil sensus penduduk
tahun 2010 jumlah penduduk Indonesia adalah 289,4 juta. Berarti Indonesia
termasuk negara terbesar ke tiga di antara negara-negara yang sedang berkembang
setelahCina dan India.Dibanding dengan jumlah sensus tahun 1990 maka akan
terlihat peningkatan penduduk Indonesia rata-rata 1,98% pertahun. Berdasarkan
hasil proyeksi penduduk, jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2015 sebanyak
315,3 juta jiwa.
Bila dilihat dari luas
wilayah pada peta penyebaran penduduknya terlihat tidak merata di 34 propinsi.
Berdasarkan hasil sensus penduduk tahun 1990 sekitar 60% penduduk tinggal di
pulau Jawa, padahal luas pulau Jawa hanya 7% dari luas wilayah Indonesia.
Dilain pihak pulau Kalimantan yang luas wilayahnya hanya ditempati oleh 5% dari
jumlah penduduknya. Kondisi tersebut menunjukan bahwa kepadatan penduduk
Indonesia tidak seimbang. Kondisi tersebut memerlukan upaya pemerataan dan
upaya tersebut telah dilaksanakan melalui program transmigrasi dan gerakan
kembali ke Desa.
Dilihat dari tingkat
pertambahan penduduknya Indonesia masih tergolong tinggi, hal ini bila tidak
diupayakan pengendalianya akan menimbulkan banyak masalah. Di Indonesia dari
tingkat partisipasi anak usia sekolah baru mencapai 53% meskipun wajib belajar
pendidikan dasar 9 tahun telah dicanangkan oleh pemerintah. Dibanding negara
tetangga, tingkat partisipasi pendidikan kita tergolong rendah. Hongkong
misalnya tahun 1995 telah mencapai 95%, Korea Selatan 88% dan Singapura telah
mencapai 95 %.
Masalah-masalah lain
seperti ketenagakerjaan 77% angkatan kerja masih berpendidikan rendah.
Dampaknya terhadap pendapatan perkapita yang pada gilirannya akan berpengaruh
terhadap kualitas hidup. Juga terhadap kehidupan rumah tangga seperti
perceraian dan perkawinan yang akan berpengaruh terhadap angka kelahiran dan
kematian yang dalam banyak hal dijadikan indikator bagi kesejahteraan suatu
negara.
Nampaknya sederhana,
tetapi harus diingat bahwa manusia adalah sebagai subjek tetapi juga sekaligus
objek pembangunan sehingga bila tidak diantisipasi mungkin pada gilirannnya
akan berakibat ketidakstabilan atau kerapuhan suatu negara.
Permasalahan Penduduk
(Kuantitas dan Kualitas) : Pembangunan suatu bangsa berkaitan erat dengan
permasalahan kependudukannya. Suatu pembangunan dapat berhasil jika didukung
oleh subjek pembangunan, yakni penduduk yang memiliki kualitas dan kuantitas
yang memadai.
B. Pertambahan
Penduduk Dan Lingkungan Pemukiman
Dalam UU No. 26 Tahun
2007 tentang Penataan Ruang, telah ditegaskan mengenai tujuan penyelenggaraan
penataan ruang yaitu mewujudkan ruang wilayah nasional yang aman, nyaman,
produktif, dan berkelanjutan, serta menciptakan keharmonisan antara lingkungan
alam dan lingkungan buatan.
Keterpaduan dalam
penggunaan sumber daya alam dan sumber daya buatan dengan memperhatikan sumber
daya manusia; serta perlindungan fungsi ruang dan pencegahan dampak negatif
terhadap lingkungan akibat pemanfaatan ruang.
Penataan ruang yang
berpihak pada lingkungan hidup perlu ditegakkan bersama karena sebelumnya,
logika penataan ruang yang hanya mengikuti selera pasar, dalam kenyataan telah
mengancam keberlanjutan. Hal ini dapat dicermati dari keberadaan lahan-lahan
produktif dan kawasan buffer zone berada dalam ancaman akibat konversi lahan
secara besar-besaran untuk kepentingan penyediaan lahan yang mempunyai land
rent tinggi seperti peruntukan lahan untuk permukiman, industri, perdagangan
serta pusat-pusat perbelanjaan. Diperkirakan sekitar 15 ribu – 20 ribu ha per
tahun lahan pertanian beririgasi beralih fungsi menjadi lahan non pertanian,
serta tidak sedikit kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) terdegradasi.
Berdasarkan data (Bappenas, 2002) terdapat sekitar 62
Daerah Aliran Sungai
(dari 470 Daerah Aliran Sungai) terdegradas akibat dari penebangan hutan yang
tidak terkendali dari hulu sungai. Tekanan lingkungan lainnya adalah menyangkut
laju urbanisasi yang akan tumbuh sekitar 4,4 persen per tahun. Oleh karena itu
diperkirakan, pada tahun 2025 nanti terdapat sekitar 60 persen penduduk
Indonesia (167 juta orang) berada di perkotaan. Bila penataan ruang tidak mengikuti
logika pembangunan keberlanjutan, maka dapat dipastikan bahwa kota-kota besar
yang telah berkembang saat ini akan selalu berada tekanan social yang sangat
tinggi. Dilihat dari perspektif ekologis bahwa pertumbuhan penduduk yang cepat
dapat berdampak kepada meningkatnya kepadatan penduduk, sehingga menyebabkan
ketidakseimbangan mutu lingkungan secara menyeluruh. Menurut Soemarwoto
(1991:230-250) bahwa secara rinci dampak kepadatan penduduk sebagai akibat laju
pertumbuhan penduduk yang cepat terhadap kelestarian lingkungan adalah sebagai
berikut:
(1) Meningkatnya limbah
rumah tangga sering disebut dengan limbah domestik. Dengan naiknya kepadatan
penduduk berarti jumlah orang persatuan luas bertambah. Karena itu jumlah
produksi limbah persatuan luas juga bertambah. Dapat juga dikatakan di daerah
dengan kepadatan penduduk yang tinggi, terjadi konsentrasi produksi limbah.
(2) Pertumbuhan penduduk
yang terjadi bersamaan dengan pertumbuhan ekonomi dan teknologi yang melahirkan
industri dan sistem transport modern. Industri dan transport menghasilkan
berturut-turut limbah industri dan limbah transport. Di daerah industri juga
terdapat kepadatan penduduk yang tinggi dan transport yang ramai. Di daerah ini
terdapat produksi limbah domsetik, limbah industri dan limbah transport.
(3) Akibat pertambahan
penduduk juga mengakibatkan peningkatan kebutuhan pangan. Kenaikan kebutuhan
pangan dapat dipenuhi dengan intensifikasi lahan pertanian, antara lain dengan
mengunakan pupuk pestisida, yang notebene merupakan sumber pencemaran. Untuk
masyarakat pedesaan yang menggantungkan hidupnya pada lahan pertanian, maka
seiring dengan pertambahan penduduk, kebutuhan akan lahan pertanian juga akan
meningkat. Sehingga ekploitasi hutan untuk membuka lahan pertanian baru banyak
dilakukan. Akibatnya daya dukung lingkungan menjadi menurun. Bagi mereka para
peladang berpindah, dengan meningkatnya pertumbuhan penduduk yang sedemikian
cepat, berarti menyebabkan tekanan penduduk terhadap lahan juga meningkat.
Akibatnya proses pemulihan lahan mengalami percepatan. Yang tadinya memakan
waktu 25 tahun, tetapi dengan semakin meningkatnya tekanan penduduk terhadap
lahan maka bisa berkurang menjadi 5 tahun. Saat dimana lahan yang baru
ditinggalkan belum pulih kesuburannya.
(4) Makin besar jumlah
penduduk, makin besar kebutuhan akan sumber daya. Untuk penduduk agraris,
meningkatnya kebutuhan sumber daya ini terutama lahan dan air. Dengan
berkembangnya teknologi dan ekonomi, kebutuhan akan sumber daya lain juga
meningkat, yaitu bahan bakar dan bahan mentah untuk industri. Dengan makin
meningkatnya kebutuhan sumber daya itu, terjadilah penyusutan sumber daya.
Penyusutan sumber daya berkaitan erat dengan pencemaran. Makin besar pencemaran
sumber daya, laju penyusunan makin besar dan pada umumnya makin besar pula
pencemaran.
Tingkat laju pertumbuhan Indonesia dalam
beberapa tahun ke depan bukan mustahil akan menyalip Amerika Serikat. Jumlah
penduduk Indonesia saat ini mencapai 227 juta jiwa, sedangkan penduduk AS
berjumlah 315 juta jiwa. Dari hasil survei, pertumbuhan penduduk Indonesia per
tahun bertambah 3,2 juta jiwa.
Secara kuantitas jumlah ini sama dengan
jumlah seluruh penduduk Singapura. Kepala BKKBN Sugiri Syarief menunjukkan
bahwa program KB ternyata mengalami stagnasi dengan angka rata-rata seorang
wanita mempunyai anak selama masa subur secara nasional pada 2007 tetap berada
di angka 2,6 dibanding 2003. Jumlah penduduk Indonesia saat ini menduduki nomor
empat terbanyak di dunia setelah China dengan 1,3 miliar jiwa, India dengan 1,2
miliar, dan AS nomor ketiga dengan 315 juta. (Republika, 2 Juni 2009).
Bergesernya pola hidup masyarakat dan
tingginya tuntutan hidup modern yang makin sulit dikejar menyebabkan terjadinya
banyak stressor atau penyebab stress yang menyerang masyarakat metropolis. Tidak
mengherankan bila gangguan kejiwaan pun menjadi salahsatu penyakit tren
masyarakat kota dewasa ini. Indikatornya, jelas terlihat dari banyaknya pasien
non psikosa (bukan kejiwaan) yang dirawat instalasi Ilmu Kedokteran Jiwa
berbagai RSU.
Sebelum berakibat lebih parah,
selayaknya kita bercermin pada berbagai kejadian khusus yang cenderung muncul
di perkotaan. Jakarta, Surabaya, Medan dan kota besar lainnya tidak hanya
tampak indah dengan gedung-gedung pencakar langit dengan arsitektur modern dan
deretan mobil mewah yang berseliweran. Kota-kota ini tidak hanya gagah karena
gemerlapnya lampu-lampu kota yang menghidupkan suasana malam. Namun, di balik
gemerlap semua itu, kota ini juga mempunyai berbagai masalah pelik sebagai kota
besar yang notabene menjadi sasaran kaum urban sebagaimana dialami kota-kota
besar lain di berbagai belahan dunia.
Akumulasi berbagai masalah klasik akibat
peningkatan jumlah penduduk kota yang cepat makin dirasakan dampaknya, mulai
dari kemiskinan, pencemaran, pengangguran, hingga kriminalitas dan sebagainya.
Diperburuk lagi, kini banyak problema lingkungan hidup kota sehingga
pelestarian lingkungan makin berkurang dan perencanaan kota jadi tidak sesuai
dengan kenyataan akibat pengaturan Rencana Tata Ruang dan Wilayah (RTRW) baik kota
maupun propinsi yang sering tidak sinkron. Buntut dari rangkaian masalah itu
tidak lain adalah tingkat daya dukung kota terhadap kehidupan warga yang makin
rendah.
Secara umum, pertumbuhan penduduk
kota-kota di dunia cenderung mengalami lonjakan yang sangat fenomenal,
sementara pada saat yang sama, kualitas lingkungan cenderung menurun. Lebih
dari setengah jumlah penduduk di dunia sekarang ini tinggal di perkotaan.
Masalah-masalah perkotaan, seperti kepadatan lalu lintas, pencemaran udara,
perumahan dan pelayanan masyarakat yang kurang layak, kriminal, kekerasan dan
penggunaan obat-obat terlarang menjadi masalah yang harus dihadapi masyarakat
perkotaan. Sangat wajar, apabila kecenderungan tersebut terus-menerus tidak
ditangani maksimal, ibarat bola salju yang makin lama makin membesar, dan
akhirnya memicu runtuhnya kekuatan psikologis masyarakat.
Jika penduduk Surabaya tahun 2010
diasumsikan berjumlah 5 juta jiwa, berarti setiap jiwa hanya disuplai oleh
lingkungan alam lebih kurang seluas 650 meter persegi, padahal dalam suplai
udara bersih, tidak ada ruang lagi untuk mendapatkannya. Penyebabnya adalah
jumlah penggunaan kendaraan bermotor yang makin meningkat sehingga akan
menghasilkan gas polutan bahan-bahan insektisida. Masalah polusi udara di dalam
ruangan adalah yang paling kerap kita hadapi sehari-hari. Menurut laporan EPA
(Environmental Protection Agency) 26.000 jiwa meninggal dalam setiap tahunnya
yang diakibatkan dari polusi udara dalam ruangan. Sementara menurut laporan WHO
sebanyak 12,5 juta jiwa mengalami gangguan kesehatan akibat polusi udara
tersebut
C. Pertumbuhan Penduduk Dan
Tingkat Pendidikan
Pertumbuhan
penduduk adalah perubahan populasi sewaktu-waktu, dan dapat
dihitung sebagai perubahan dalam jumlah individu dalam sebuah populasi menggunakan
“per waktu unit” untuk pengukuran. Sebutan pertumbuhan
penduduk merujuk pada semua spesies, tapi selalu mengarah pada manusia,
dan sering digunakan secara informal untuk sebutan demografi nilai
pertumbuhan penduduk, dan digunakan untuk merujuk pada pertumbuhan penduduk
dunia.
Setiap tahunnya
seluruh negara di dunia mengalami pertumbuhan penduduk, salah satunya di
Indonesia. Seiring bertambahnya penduduk yang tidak terkontrol
mengakibatkan adanya masalah-masalah sosial,salah satunya adalah
tingkat pendidikan.PadaNegara-negara berkembang pendidikan merupakan
masalah yang serius.Diketahui bahwa tingkat pendidikan pada Negara-negara
berkembang masih relative rendah,Sehingga penduduk kurang mengetahui
keadaan-keadaan sosial bagi kehidupan masyarakat.Umumnya penduduk yang
pendidikannya relative rendah ,pada suatu ketika jika membentuk suatu keluarga
mereka mempuyai banyak anak,sedangkan anak-anak tersebut belum tentu mendapat
pendidikan yang layak.
Hal ini menjadi factor mereka untuk berpindah wilayah,terutama ke kota-kota
besar.Biasanya mereka mendengar bahwa dikota itu adalah tempat mencari rezeki
yang baik.Bila melihat tingkat pendidikan di kota,pendidikan disana
sudah relative tinggi,dalam arti kata jika penduduk dari desa mencari
pekerjaan,sudah agak sulit karena dikota yang diutamakn adalah pendidikan
minimalnya setingkat sekolah menengah atas. Kenyataanya adalah ketika penduduk
tersebut tidak mendapat pekerjaan mereka mesih tetap bertahan di wilayah itu
yang menimbulkan masalah-masalah sosial bagi wilayah perkotaan. Pertumbuhan
penduduk dan tingkat pendidikan mempunyai keterkaitan yang serius. Semakin
bertambahnya jumlah penduduk di suatu wilayah berarti tingkat pendidikan di
daerah tersebut juga bertambah. Kebutuhan pendidikannya juga ikut bertambah.
Pendidikan menjadi kebutuhan yang sangat penting bagi seluruh masyarakat di
dunia karena seperti pada salah satu kutipan undang-undang nomor 4 tahun l950,
telah di sebutkan secara jelas tentang tujuan pendidikan dan pengajaran yang
pada intinya, ialah untuk membentuk manusia susila yang cakap dan warga negara
yang demokratis serta bertanggung jawab tentang kesejahteraan masyarakat dan
tanah air berdasarkan pancasila dan kebudayaan kebangsaan Indonesia
.Pertumbuhan penduduk harus lebih dimaknai bahwa semakin bertambahnya penduduk
maka makin bertambah pula masyarakat yang akan membantu memajukan negara ini.
Pendidikan bukan hanya sekedar pendidikan yang bersifat tertulis namun
pendidikan karakter juga dibutuhkan untuk membangun karakter / pribadi yang
baik yang saat ini sangat dibutuhkan di negri kita tercinta ini.
D. Pertumbuhan
penduduk dan Penyakit Yang Berkaitan Dengan Lingkungan Hidup
Migrasi ada dua yaitu
migrasi masuk yang artinya menambah jumlah penduduk sedangkan migrasi keluar
adalah mengurangi jumlah penduduk. Migrasi itu biasa terjadi karena pada tempat
orang itu tinggal kurang ada fasilitas yang memadai. Selain itu juga kebanyakan
kurangnya lapangan kerja. Maka dari itu banyaklah orang yang melakukan migrasi.
Dalam dalam masalah
ini maka penduduk tidak aka jauh dengan masalah kesehatan atau penyakit yang
melanda penduduk tersebut,dikarenakan lingkungan yang kurang terawat ataupun
pemukiman yang kumuh,seperti limbah pabrik,selokan yang tidak terawat yang
menyebabkan segala penyakit akan melanda para penghuni wilayah tersebut yang
mengakibatkan kematian dan terjadi pengurangan jumlah penduduk.
Untuk menjamin
kesehatan bagi semua orang di lingkunan yang sehat, perlu jauh lebih banyak
daripada hanya penggunaan teknologi medikal, atau usaha sendiri dalam semua sektor
kesehatan.
Usaha-usaha secara
terintegrasi dari semua sektor, termasuk organisasi-organisasi,
individu-individu, dan masyarakat, diperlukan untuk pengembangan pembangunan
sosio-ekonomi yang berkelanjutan dan manusiawi, menjamin dasar lingkungan hidup
dalam menyelesaikan masalah-masalah kesehatan.
Seperti semua makhluk
hidup, manusia juga bergantung pada lingkungannya untuk memenuhi
keperluan-keperluan kesehatan dan kelangsungan hidup.
Kesehatanlah yang rugi
apabila lingkungan tidak lagi memenuhi kebutuhan-kebutuhan manusia akan
makanan, air, sanitasi, dan tempat perlindungan yang cukup dan aman- karena
kurangnya sumber-sumber atau distribusi yang tidak merata.
Kesehatanlah yang rugi
apabila orang-orang menghadapi unsur-unsur lingkungan yang tidak ramah- seperti
binatang-binatang mikro, bahan-bahan beracun, musuh bersenjata atau supir-supir
yang mabuk.
Kesehatan manusia
adalah keperluan dasar untuk pembangunan berkelanjutan. Tanpa kesehatan,
manusia tidak dapat membangun apa pun, tidak dapat menentang kemiskinan, atau
melestarikan lingkungan hidupnya. Sebaliknya, pelestarian lingkungan hidup
merupakan hal pokok untuk kesejahteraan manusia dan proses pembangunan.
E. Pertumbuhan
Penduduk Dan Kelaparan
Kekurangan gizi dan angka kematian anak meningkat di sejumlah kawasan yang
paling buruk di Asia dan Pasifik kendati ada usaha internasional untuk
menurunkan keadaan itu.Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menegaskan bahwa
sasaran kesehatan yang ditetapkan berdasarkan delapan Tujuan Pembangunan
Milenium PBB tahun 2000 tidak akan tercapai pada tahun 2015 berdasarkan
kecnderungan sekarang.
“Sejauh ini bukti menunjukkan bahwa
kendati ada beberapa kemajuan, di banyak negara, khususnya yang paling miskin,
tetap ketinggalan dalam kesehatan,” kata Dirjen WHO Lee Jong Wook dalam laporan
itu. Kendati tujuan pertama mengurangi kelaparan, situasinya bahkan memburuk
sementara negara-negara miskin berjuang mengatatasi masalah pasokan pangan yang
kronis, kata data laporan itu. Antara tahun 1990 dan 2002– data yang paling akhir–
jumlah orang yang kekurangan makanan meningkat 34 juta di indonesia dan 15 juta
di Surabaya dan 47 juta orang di Asia timur, kata laporan tersebut. Proporsi
anak berusia lima tahun ke bawah yang berat badannya terlalu ringan di
Surabaya, tenggara dan timur meningkat enam sampai sembilan persen antara tahun
1990 dan 2003, sementara hampir tidak berubah (32 persen).
Lebih dari separuh
anak-anak di Asia selatan kekurangan gizi, sementara rata-rata di negara-negara
berkembang tahun 2003 tetap sepertiga. “Meningkatnya pertambahan penduduk dan
produktivitas pertanian yang rendah merupakan alasan utama kekurangan pangan di
kawasan-kawasan ini,” kata laporan itu.
Kelaparan cenderung
terpusat di daerah-daerah pedesaan di kalagan penduduk yang tidak memilki tanah
atau para petani yang memiliki kapling yang sempit untuk memenunhi kebutuhan
hidup mereka,” tambah dia. Tidak ada satupun negara-negara miskin dapat
memenuhi tantangan mengurangi tingkat kematian anak.
Kematian bayi
meningkat tajam di Surabaya antara tahun 1999 dan 2003, yang menurut data
terakhir yang diperoleh, dari 90 sampai 126 anak per 1.000 kelahiran hidup.
Juga terjadi peningkatan tajam dari 38 menjadi 87 per 1.000 kelahiran hidup.
“Untuk sebagian besar negara kemajuan
dalam mengurangi kematian anak juga akan berjalan lambat karena usaha-usaha
mengurangi kekurangan gizi dan mengatasi diare, radang paru-paru, penyakit yang
dapat dicegah dengan vaksin dan malaria tidak memadai,” kata laporan itu.
Berdasarkan
kecenderungan sekarang, WHO memperkirakan pengurangan dalam angka kematian
dikalangan anak berusia dibawah lima tahun antara tahun 1990 dan 2015 akan
menjadi sekitar seperempat, kurang dari dua pertiga dari yang diusahakan. Usaha
untuk mengatasi kematian ibu juga sulit, kata laporan WHO itu. Tingkat kematian
ibu diperkirakan akan menurun hanya di negara-negara yang telah memiliki
tingkat kematian paling rendah sementara sejumlah negara yang mengalami angka
terburuk bahkan sebaliknya.
WHO memperkirakan
504.000 dan 528.000 kematian dalam setahun karena komplikasi dalam kehamilan
dan kelahiran terjadi di Surabaya Tingginya laju pertumbuhan penduduk dan angka
kelahiran di Indonesia tersebut, diperparah dengan pola penyebaran penduduk
yang tidak merata. “Jika semua itu, tidak segera dikendalikan, maka hal itu
akan jadi beban buat kita semua. Karena itu, baik pria maupun wanita harus
memaksimalkan program KB, Untuk mengurangi jumlah penduduk lapar tersebut, maka
menurut Diouf diperlukan peningkatan produksi dua kali lipat dari sekarang pada
tahun 2050. Peningkatan produksi ini khususnya perlu terjadi di negara
berkembang, di mana terdapat mayoritas penduduk miskin dan lapar. Jumlah
penduduk dunia yang mengalami kelaparan meningkat sekitar 50 juta jiwa selama
tahun 2007 akibat dari kenaikan harga pangan dan krisis energi.
F. Kemiskinan Dan Keterbelakangan
Secara sosiologis,
kebodohan, kemiskinan dan keterbelakangan ditentukan oleh tiga faktor; yakni
kesadaran manusia, struktur yang menindas, dan fungsi struktur yang tidak
berjalan semestinya. Dalam konteks kesadaran, kebodohan, kemiskinan dan
keterbelakangan biasanya merujuk pada kesadaran fatalistik dan menyerah pada
“takdir”. Suatu kondisi diyakini sebagai pemberian Tuhan yang harus diterima,
dan perubahan atas nasib yang dialaminya hanya mungkin dilakukan oleh Tuhan.
Tak ada usaha manusia yang bisa mengubah nasib seseorang, jika Tuhan tak
berkehendak. Kesadaran fatalistik bersifat pasif dan pasrah serta mengabaikan
kerja keras.
Kesadaran ini
tampaknya dimiliki sebagian besar masyarakat Indonesia, sehingga kemiskinan,
kebodohan dan keterbelakangan diterima sebagai takdir yang tak bisa ditolak.
Bahkan, penerimaan terhadap kondisi itu merupakan bagian dari ketaatan beragama
dan diyakini sebagai kehendak Tuhan.
Kesadaran keberagamaan
yang fatalistik itu perlu dikaji ulang. Pasalnya, sulit dipahami jika manusia
tidak diberi kebebasan untuk berpikir dan bekerja keras. Kesadaran fatalistik
akan mengurung kebebasan manusia sebagai khalifah di bumi. Sementara sebagai
khalifah, manusia dituntut untuk menerapkan ajaran dalam konteks dunia dan
akhirat. Oleh karena itu, kemiskinan dan kebodohan, wajib diubah. Bahkan,
kewajiban itu adalah bagian penting dari kesadaran manusia.
Faktor penyebab lain
yang menyebabkan kemiskinan, kebodohan, dan keterbelakangan karena otoritas struktural
yang dominan. Kemiskinan, misalnya, bisa disebabkan oleh ulah segelintir orang
di struktur pemerintahan yang berlaku tidak adil. Kemiskinan yang diakibatkan
oleh problem struktural disebut “kemiskinan struktural”. Yaitu kemiskinan yang
sengaja diciptakan oleh kelompok struktural untuk tujuan-tujuan politik
tertentu. Persoalan kemiskinan, kebodohan, dan keterbelakangan juga disebabkan
karena tidak berfungsinya sistem yang ada. Sebab orang-orang yang berada dalam
sistem tidak memiliki kemampuan sesuai dengan posisinya. Akibatnya sistem
berjalan tersendat-sendat, bahkan kacau. Kesalahan menempatkan orang tidak
sesuai dengan kompetensinya (one man in the wrong place) bisa mengakibatkan
kondisi bangsa ini menjadi fatal.
Kondisi masyarakat
Indonesia yang masih berkubang dalam kemiskinan, kebodohan, dan
keterbelakangan, jelas berseberangan dengan prinsip-prinsip fitrah manusia.
Fitrah manusia adalah hidup layak, berpengetahuan, dan bukan miskin atau bodoh.
Untuk mengentaskan masyarakat Indonesia dari kubangan kemiskinan, kebodohan,
dan keterbelakangan, pemerintah perlu mengambil kebijakan strategis. Kebijakan
strategis tersebut membutuhkan suatu jalur yang dipandang paling efektif. Dalam
konteks inilah penulis berpendapat bahwa pendidikan merupakan satu-satunya
jalur paling efektif untuk mengentaskan seluruh problem sosial di Indonesia.
Meskipun persoalan
kemiskinan bisa saja disebabkan karena struktur dan fungsi struktur yang tidak
berjalan, akan tetapi itu semua mengisyaratkan pada faktor manusianya. Struktur
jelas buatan manusia dan dijalankan oleh manusia pula. Jadi, persoalan
kemiskinan yang bertumpu pada struktur dan fungsi sistem jelas mengindikasikan
problem kesadaran manusianya. Dengan demikian, agenda terbesar pendidikan
nasional adalah bagaimana merombak kesadaran masyarakat Indonesia agar menjadi
kritis. Mari kita berantas kemiskinan dan keterbelakangan, supaya bangsa ini
bisa lebih maju.
2.
ILMU TEKNOLOGI DAN PENGETAHUAN LINGKUNGAN
A. Keberlanjutan Pembangunan
Pembangunan Berkelanjutan adalah proses pembangunan lingkungan yang
berprinsip “memenuhi kebutuhan sekarang tanpa mengorbankan pemenuhan kebutuhan
generasi masa depan”. Pembangunan berkelanjutan adalah salah satu faktor yang
harus dihadapi untuk mencapai pembangunan berkelanjutan adalah bagaimana
memperbaiki kehancuran lingkungan tanpa mengorbankan kebutuhan pembangunan
ekonomi dan keadilan sosial.
Pembangunan berkelanjutan tidak saja berkonsentrasi pada isu-isu lingkungan. Lebih luas daripada itu, pembangunan berkelanjutan mencakup tiga lingkup kebijakan: pembangunan ekonomi, pembangunan sosial dan perlindungan lingkungan. Menyebut ketiga hal dimensi tersebut saling terkait dan merupakan pilar pendorong bagi pembangunan berkelanjutan.
Pembangunan berkelanjutan tidak saja berkonsentrasi pada isu-isu lingkungan. Lebih luas daripada itu, pembangunan berkelanjutan mencakup tiga lingkup kebijakan: pembangunan ekonomi, pembangunan sosial dan perlindungan lingkungan. Menyebut ketiga hal dimensi tersebut saling terkait dan merupakan pilar pendorong bagi pembangunan berkelanjutan.
Pembangunan Hijau pada umumnya dibedakan dari pembangunan bekelanjutan,
dimana pembangunan Hijau lebih mengutamakan keberlanjutan lingkungan di atas
pertimbangan ekonomi dan budaya. Pendukung Pembangunan Berkelanjutan berargumen
bahwa konsep ini menyediakan konteks bagi keberlanjutan menyeluruh dimana
pemikiran mutakhir dari Pembangunan Hijau sulit diwujudkan. Sebagai contoh,
pembangunan pabrik dengan teknologi pengolahan limbah mutakhir yang membutuhkan
biaya perawatan tinggi sulit untuk dapat berkelanjutan di wilayah dengan sumber
daya keuangan yang terbatas.
Keberadaan sumberdaya alam, air, tanah dan sumberdaya yang lain menentukan
aktivitas manusia sehari-hari. Kita tidak dapat hidup tanpa udara dan air.
Sebaliknya ada pula aktivitas manusia yang sangat mempengaruhi keberadaan
sumberdaya dan lingkungan di sekitarnya. Kerusakan sumberdaya alam banyak
ditentukan oleh aktivitas manusia. Banyak contoh kasus-kasus pencemaran dan
kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh aktivitas manusia seperti pencemaran
udara, pencemaran air, pencemaran tanah serta kerusakan hutan yang kesemuanya
tidak terlepas dari aktivitas manusia, yang pada akhirnya akan merugikan
manusia itu sendiri. Pembangunan yang mempunyai tujuan untuk meningkatkan
kesejahteraan masyarakat tidak dapat terhindarkan dari penggunaan sumberdaya
alam. Namun eksploitasi sumberdaya alam yang tidak mengindahkan kemampuan dan
daya dukung lingkungan mengakibatkan merosotnya kualitas lingkungan.
Di Indonesia ,
kontribusi yang menjadi andalan dalam menyumbang pertumbuhan ekonomi dan sumber
devisa serta modal pembangunan adalah dari sumberdaya alam. “Sumberdaya alam
mempunyai peranan penting dalam perekonomian Indonesia baik pada masa lalu,
saat ini maupun masa mendatang sehingga, dalam penerapannya harus memperhatikan
apa yang telah disepakati dunia internasional . Namun demikian , selain
sumberdaya alam mendatangkan kontribusi besar bagi pembangunan, di lain pihak
keberlanjutan atas ketersediaannya sering diabaikan. Begitu juga aturan yang
mestinya ditaati sebagai landasan pengelolaan suatu usaha dan atau kegiatan
mendukung pembangunan dari sektor ekonomi kurang diperhatikan. Akibatnya, ada
kecenderungan terjadi penurunan daya dukung lingkungan dan menipisnya
ketersediaan sumberdaya alam yang ada serta penurunan kualitas lingkungan
hidup. Di era Otonomi Daerah, pengelolaan lingkungan hidup tetap mengacu pada
Undang-undang No 23 tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup dan juga
Undang-undang No 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah serta Undang-undang
No 33 Tahun 2004 Tentang Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah. Dalam
melaksanakan kewenangannya diatur dengan Peraturan Pemerintah No 25 Tahun 2000
tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom.
Dalam pengelolaan lingkungan hidup Pemerintah Provinsi mempunyai 6 kewenangan
terutama menangani lintas kabupaten/kota, sehingga titik berat penanganan
pengelolaan lingkungan hidup ada di kabupaten/kota. Dalam surat edaran Menteri
Dalam Negeri No 045/560 tanggal 24 Mei 2002 tentang pengakuan
Kewenangan/Positif List terdapat 79 Kewenangan dalam bidang lingkungan hidup.
Sejalan dengan lajunya pembangunan nasional yang dilaksanakan permasalahan
lingkungan hidup yang saat ini sering dihadapi adalah kerusakan lingkungan di
sekitar areal pertambangan yang berpotensi merusak bentang alam dan adanya tumpangtindih
penggunaan lahan untuk pertambangan di hutan lindung. Kasus-kasus pencemaran
lingkungan juga cenderung meningkat. Kemajuan transportasi dan industrialisasi
yang tidak diiringi dengan penerapan teknologi bersih memberikan dampak negatif
terutama pada lingkungan perkotaan. Sungai-sungai di perkotaan tercemar oleh
limbah industri dan rumah tangga. Kondisi tanah semakin tercemar oleh bahan
kimia baik dari sampah padat, pupuk maupun pestisida. Masalah pencemaran ini
disebabkan masih rendahnya kesadaran para pelaku dunia usaha ataupun kesadaran
masyarakat untuk hidup bersih dan sehat dengan kualitas lingkungan yang baik.
B. Mutu
Lingkungan Hidup Dengan Resiko
Pengertian tentang
mutu lingkungan sangatlah penting, karena merupakan dasar dan pedoman untuk mencapai
tujuan pengelolaan lingkungan. Berbicara mengenai lingkungan pada dasarnya
adalah berbicara mengenai mutu lingkungan. Namun dalam hal itu apa yang
dimaksud dengan mutu lingkungan tidaklah jelas, karena tidak diuraikan secara
jelas, mutu lingkungan hanyalah dikaitkan dengan masalah lingkungan, misalnya
pencemaran, erosi, dan banjir. Dengan kata lain mutu lingkungan itu diuraikan
secara nrgatif, yaitu apa yang tidak kita kehendaki, seperti air tercemar. Agar
kita dapat mengelola lingkungan dengan baik, kita tidak saja perlu mengetahui
apa yang tidak kita keehendaki. Dengan demikian kita dapat mengetahui kearah
mana lingkungan utu ingin kita kembagnkan untuk mendapatkan mutu yang kita
inginkan.
Tidak mudah untuk
menentukan apa yang dimaksud dengan mutu lingkungan, oleh karena persepsi orang
terhadap mutu lingkungan berbeda-beda. Dengan singkat dapatlah dikatakan mutu
lim=ngkungan yang baik membuat orang kerasan hidup dilingkungan tersebut.
Perasaan itu disebebkan karena orang mendapatkan rizki yang cukup, iklim dan
faktor alamiah lainnya yang sesuai dan masyarakat yang cocok pula. Misalnya,
seorang yang karena pekerjaannya harus pindah ketempat lain, setelah pensiun ia
ingin kembali lagi ke temoat yang kerasan itu. Kerasan mukanlah karena suatu
atu dua faktor saja yang terpenuhi dalam suatu lingkungan, melainkan adanya
integrasi faktor-faktor secara optimum. Karena itu pengelolaan lingkungan untuk
mendapatkan perasaan kerasan, bukanlah suatu maksimisasi satu atau dua faktor,
misalnya maksimisasi rezeki, melainkan suatu optimisasi banyak faktor yang
saling berkaitan secara terintegrasi. Yang penting bukanlah masing-masing
faktor seara tersendiri, melainkan totalitas kindisi. Totalitas kondisi itu
adalah lebih dari jumlah masing-masing faktor. Oleh karenanya sebagi suatu
kesatuan.
Pengelolaan lingkungan
untuk mendapatkan kondisi optimum didasarkan pada pertimbangan yntung rugi.
Orang bersedia untuk mengurangi atau mengorbankan suatu keuntungan untuk
mendapatkan keuntungan lain atau mengurangi suatu kerugian. Dengan demikian
pada hakekatnyan orang menganalisis manfaat dan resiiko lingkungan agar
kebutuhan hidupnya dapat terpenuni secara optimum.
Berdasarkan analisis
tersebut diatas mutu lingkunan dapatlah diartikan sebgagai kondisi lingkungan
dalam hubungannya dengan mutu hidup. Makit tinggi derajat mutu hidup dalam
suatu lingkungan tertentu, makin tinggi pula derajat mutu lingkungan tersebut
dan sebaliknya.
·
RESIKO LINGKUNGAN YANG TIDAK SEHAT
1.
Penularan Penyakit Melalui Air
Air adalah mutlak bagi
kehidupan. Tetapi jika kualitas air tidak di perhatikan, maka air dapat menjadi
sumber penyebab penyakit. Air dapat mengandung zat – zat kimia yang berbahaya
untuk kehidupan, bila terdapat pencemaran dengan berbagai sumber alam maupun
sumber kehidupan manusia.
Banyak penyakit
menular yang bersumber pada air. Penyakit virus dapat bersumber pada air,
seperti radang mata yang sering di dapat setelah berenang di kolam yang kurang
terpelihara. Air selain dapat menularkan penyakit secara langsung, dapat juga
menjadi tempat perindukan berbagai macam penyakit. Berbagai serangga memerlukan
air untuk berkembang biak seperti nyamuk yang dapat menularkan berbagai macam
penyakit.
Tumbuhan air juga
dapat menjadi habitat dari faktor penyakit. Keong air yang dapat memerlikan
schistosomiasis dari tumbuh – tumbuhan air itu. Tikus dan binatang lainnya yang
hidup di sekitar air juga dapat menjadi sumber penyakit manusia, seperti
penyakit leptopirosis.
2. Penularan
Penyakit Melalui udara
Penyakit dapat
ditularkan dengan menghirup penyebab penyakit dalam pernafasan. Penyakit
influensa dan tuberkulosis adalah contoh – contoh yang terinfeksi melalui
udara. Pencemaran udara dengan berbagai bahan kimia dapat menyebabkan kerusakan
langsung pada paru – paru. Selain itu dapat menyebabkan iritasi pada paru –
paru sehingga mudah terserangoleh penyakit infeksi sekunder seperti TBC. Selain
itu bahan – bahan kimia ini banyak di duga sebagai penyebab kanker paru – paru
misalnya exhaust fume kendaraan bermotor.
3. Penularan
Penyakit Melalui Tanah
Air tanah banyak mengandung
penyakit, terutama jika tercemar oleh kotoran manusia dan hewan, baik secara
sengaja maupun tidak sengaja. Penyakit tetanus dapat terjadi jika luka kena
tanah, jika tanah tercemar oleh kotoran hewan atau manusia, yang mengandung
penyebabnya yakni clostridiumtetani. Di dalam tanah juga banyak di temukan
bentuk – bentuk infeksi berbagai parasit. Cacing – cacing perut penyebarannya
melalui tanah, telurnya di keluarkan dengan tinja. Jika sampai di tanah, telur
– telur itu akan tumbuh menjadi bentuk infektif yang sudah siap untuk tumbuh di
dalam badan manusia. Cara penularan dapat terjadi jika telur-telur yang masak
ini tertelan oleh makanan yang tercemar oleh tanah yang mengandung telur tadi
atau memakai tangan yang kotor.
·
Pasal 47
(1) Setiap usaha dan/atau kegiatan yang
berpotensi menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan hidup, ancaman
terhadap ekosistem dan kehidupan, dan/atau kesehatan dan keselamatan manusia
wajib melakukan analisis risiko lingkungan hidup.
(2) Analisis risiko lingkungan hidup
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:
1.
pengkajian risiko;
2.
pengelolaan risiko; dan/atau
3.
komunikasi risiko.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai
analisis risiko lingkungan hidup diatur dalam Peraturan Pemerintah.
C. Kesadaran
Lingkungan
Teori Kesadaran
Lingkungan
1.
Neolaka (1991), menyatakan bahwa kesadaran lingkungan adalah keadaan
tergugahnya jiwa terhadap sesuatu, dalam hal ini lingkungan hidup, dan dapat
terlihat pada prilaku dan tindakan masing-masing individu.
2.
Hussel yang dikutip Brawer (1986), menyatakan bahwa kesadaran adalah
pikiran sadar (pengetahuan) yang mengatur akal, hidup wujud yang sadar, bagian
dari sikap/prilaku, yang dilukiskan sebagai gejala dalam alam dan harus
dijelaskan berdasarkan prinsip sebab musebab. Tindakan sebab, pikiran inilah
menggugah jiwa untuk membuat pilihan, misalnya memilih baik-buruk, indah-jelek.
3.
Buletin Para Navigator (1988), menyatakan bahwa kesadaran adalah modal
utama bagi setiap orang yang ingin maju. Secara garis besar sadar itu dapat
diukur dari beberapa aspek antara lain :
·
kemampuan membuka mata dan menafsirkan apa yang dilihat
·
kemampuan aktivitas
·
kemampuan berbicara.
Hal-hal yang
seharusnya mendapat perhatian serius mengenai kesadaran lingkungan :
·
Rendahnya kesadaran masyarakat akan lingkungan.
Dalam kehidupan sehari-hari banyak kita jumpai anggota masyarakat yang
tidak peduli terhadap lingkungan seki‑tarnya, misalnya dengan membuang sampah
seenaknya di jalanan, atau meletakkan sampah di pinggir jalan seolah bukan
miliknya lagi. Banyak yang tidak menyadari bahwa pola kehidupan modern saat ini
sangat mempengaruhi lingkungan dan kondisi bumi secara keseluruhan. Kemakmuran
yang semakin tinggi telah memberikan fasilitas hidup semakin mudah melalui
perkembangan teknologi. Akibatnya penggunaan listrik terutama untuk keperluan rumah
tangga menjadi sangat besar dan terus menerus seperti lemari es, mesin cuci,
komputer, AC, audio dan sebagainya. Sedangkan kebiasaan shopping atau
memborong belanjaan menyebabkan bertumpuknya sampah kantong plastik, piring, cangkir
atau botol plastik, dan sebagainya.
·
Tidak tegasnya pemerintah melaksanakan peraturan dan atau belum
lengkapnya perangkat perundangan.
Sering peraturan perundangan di‑buat terlambat dan baru muncul setel‑ah
terjadi sesuatu yang merugikan masyarakat. Di samping itu peraturan yang sudah
ada pelaksanaannya tidak tegas yang menyebabkan peraturan‑ya menjadi mandul.
Sebagai contoh banyak peraturan & perundangan yang menyangkut Kehutanan
baik menyangkut pelestarian, pemanfaatan dan sebagainya, namun dalam
pelaksanaannya masih tetap saja ribet dan pabaliut. Akhirnya
tetap saja penggundulan hutan berjalan terus, banjirpun dimana-mana.
·
Perhatian dan usaha penanggulangan lingkungan.
Untuk menanggulangi masalah lingkungan diperlukan perhatian selur‑uh masyarakat,
pemerintah, maupun swasta. Hal ini terkait dengan lingkungan itu sendiri yang
melibatkan seluruh aspek kehidupan manusia tanpa meng enal batas, sehingga
perlu dipelihara dan ditata. Betapapun melimpahnya sumber alam, tidaklah hanya
milik kita sendiri, tetapi juga milik generasi mendatang. Sebagai bangsa yang
memiliki rasa keagamaan yang kuat, kita harus dapat mensyukuri dan melindungi
ciptaan Tuhan yang diberikan kepada kita, baik sebagai tanda ucapan terima
kasih kepadaNya maupun untuk kita wariskan pada anak-cucu kita. Kita harus
mengacu pada Pembukaan UUD’45, yang mengamanatkan antara lain agar kita ikut
melaksanakan ketertiban dunia, yang maknanya manusia tidak hanya bebas dari
peperangan dan penindasan, tetapi terciptanya dunia yang damai dan serasi yang
menjamin umat manusia hidup sejahtera lahir dan batin termasuk bebas dari
pencemaran dan kerusakan lingkungan.Kita juga perlu menjaga
kelestarian sumber alam lainnya seperti pelestarian hutan mangrove di
sepanjang pantai yang berfungsi ganda yaitu untuk mencegah erosi dan banjir
serta menjaga habitat aneka hewan langka seperti monyet, reptil, dan persemaian
berbagai jenis ikan dan udang. Secara bersama masyarakat dunia juga perlu
waspada dengan menipisnya lapisan ozon yang berfungsi melindungi bumi dan
seisinya dari pengaruh ultra violet sinar mata‑hari yang bisa menimbulkan
berbagai macam penyakit dan mengancam terjadinya pemanasan global.
·
Peningkatan Kesadaran Lingkungan
Walaupun diharapkan
agar setiap orang peduli akan lingkungan, namun kenyataannya masih banyak
angota masyarakat yang belum sadar akan makna lingkungan itu sendiri. Oleh
karena itu kesadaran masyarakat mengenai pentingnya peranan lingkungan hidup
perlu terus ditingkatkan melalui penyuluhan, penerangan, pendidikan, penegakan
hukum disertai pemberian rangsangan atau motivasi atas peran aktif masyarakat
untuk menjaga lingkungan hidup.
Peningkatan kesadaran
lingkungan dapat dilakukan melalui berbagai cara anta‑ra lain: Pendidikan
dalam arti memberi arahan pada sistem nilai dan sikap hidup untuk mampu
memelihara keseim‑bangan antara pemenuhan ke‑pentingan pribadi, kepentingan
lingkungan sosial, dan kepen‑tingan alam. Kedua, memiliki solidaritas sosial
dan solidaritas alam yang besar me‑ngingat tindakan pribadi berpengaruh kepada
lingkungan sosial dan lingkungan alam.
Kegiatan karya wisata
di alam bebas merupakan salah satu program yang mendekatkan generasi muda dengan
lingkungan, sekaligus cinta akan lingkungan yang serasi dan asri. Pendidikan
lingkungan secara informal dalam keluarga dapat dikaitkan dengan pembinaan
disiplin anak-anak atas tanggung jawab dan kewajibannya dalam menata rumah dan
pekarangan.
D. Hubungan
Lingkungan Dengan Pembangunan
Pembangunan dan
lingkungan mempunyai hubungan yang erat saling terkait dan saling mempengaruhi
satu sama lain. Pembangunan dalam hal ini berupa kegiatan usaha maupun kegiatan
untuk hajat hidup orang banyak, membutuhkan faktor lingkungan baik lingkungan
alam maupun lingkungan sosial sebagai unsur produksi baik secara langsung maupun
tidak langsung. Lingkungan alam menjadi pemasok sumberdaya alam yang akan
diproses lebih lanjut guna memenuhi kebutuhan manusia, sedangkan lingkungan
sosial menyediakan sumberdaya manusia sebagai pelaku pembangunan. Sebaliknya
lingkungan membutuhkan pembangunan untuk bisa memberikan nilai guna atau
manfaat yang dapat diukur secara ekonomi. Demikian pula lingkungan sosial juga
membutuhkan pembangunan guna mendapatkan manfaat untuk kehidupan yang lebih
baik. Kegiatan pembangunan yang menghasilkan berbagai produk baik barang dan
jasa telah memberikan manfaat bagi kesejahteraan, kemudahan, dan kenyamanan
bagi kehidupan manusia diberbagai bidang. Namun demikian, dalam kaitan dengan
lingkungan alam, ancaman datang dari dua sumber yakni polusi dan deplesi sumberdaya
alam. Polusi berkaitan dengan kontaminasi lingkungan oleh industri, sedangkan
deplesi sumberdaya alam bersumber dari penggunaan sumber sumber yang terbatas
jumlahnya.
Pertumbuhan
pembangunan di satu sisi akan memberikan kontribusi positif terhadap taraf
hidup masyarakat. Namun di sisi lain akan berakibat menurunnya fungsi
lingkungan. Alih fungsi lahan untuk pembangunan secara langsung akan mengurangi
luas lahan hijau, baik lahan pertanian maupun kawasan hutan yang merupakan
penghasil oksigen. Sementara meningkatnya pemakaian bahan bakar fosil sebagai
sumber energi justru menyumbang gas karbon yang akhirnya berdampak pada
perubahan iklim yang terjadi karena efek rumah kaca. Kontradiksi antara
kepentingan pembangunan dan kepentingan pelestarian fungsi lingkungan ini
memerlukan upaya dan langkah nyata agar keduanya dapat dilakukan secara
seimbang dan harmonis, sesuai amanat pembangunan berkelanjutan yakni
pembangunan dengan memperhatikan tiga pilar utama yakni ekonomi, lingkungan,
dan sosial.
E. Pencemaran
Dan Perusakan Lingkungan Hidup Oleh proses Pembangunan.
Sebagaimana diarahkan
dalam GBHN Tahun 1988, pembangunan industri merupakan bagian dari pembangunan
ekonomi jangka panjang untuk mencapai stucture ekonomi yang semakin seimbang
dari sektor industri yang maju dan didukung oleh sektor pertanian yang tangguh.
Selanjutnya digariskan pula bahwa proses industrialisasi harus mampu mendorong
berkembangnya industri sebagai penggerak utama pertumbuhan ekonomi, pencipta
lapangan kerja baru, sumber peningkatan ekspor dan penghematan devisa,
penunjang pembangunan daera, penunjang pembangunan sektor-sektor lainnya
sekaligus wahana pengembangan dan penguasaan teknologi.
Industrialisasi
merupakan pilihan bagi bangsa Indonesia untuk meningkatkan kesejahteraan
kehidupannya. Hal terseut antara lain disebabkan terbatasnya lahan pertanian.
Industrialisasi merupakan suatu jawaban terhindarnyan tekanan penduduk terhadap
lahan pertanian. Yang perlu mendapatkan perhatian ialah bahwa industri
merupakan salah satu sektor pembangunan yang sangat potensial untuk merusak dan
mencemari lingkunga . apabia hal ini tidak dapat perhatian serius maka ada
kesan bahwa antara industri dan lingkungan hidup tidak berjalan seiring, dalam
arti semakin maju industri maka semakin rusak lingkungan hidup itu.
Industri yang menggunakan teknologi untuk meningkatkan taraf hidup manusia akan memberikan dampak begatif pula berupa pencemaran dan kerusakan lingkungan. Unsur – unsur pokok yang diperlukan untuk kegiatan industri antara lain adalah sumber daya alam ( berupa bahan baku, energi dan air), sumberdaya manusia ( berupa tenaga kerja peda berbagai tingkatan pendidikan), serta peralatan.
Industri yang menggunakan teknologi untuk meningkatkan taraf hidup manusia akan memberikan dampak begatif pula berupa pencemaran dan kerusakan lingkungan. Unsur – unsur pokok yang diperlukan untuk kegiatan industri antara lain adalah sumber daya alam ( berupa bahan baku, energi dan air), sumberdaya manusia ( berupa tenaga kerja peda berbagai tingkatan pendidikan), serta peralatan.
Kegiatan pembangunan
industri yang melibatkan unsur – unsur tersebut dapat menimbulkan dampak
negatif yang berupa :
BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Negara Indonesia merupakan negara yang besar dan beraneka ragam etnis serta
budaya.Kemajuan negara sesungguhnya tergantung kepada tingkat pendidikan di
Negara tersebut, kualitas serta mutu pendidikan yang tingi dapat menjadi
jaminan untuk kemajuan dan kesejahteraan negara. Di tengah pertambahan jumlah
penduduk yang semakin tidak terkontrol membuat peningkatan kualitas di dunia
pendidikan merupakan pilihan yang harus dikedepankan. Perombakan sistem
ketransmigrasian juga akan mendukung pemerataan penduduk. Jadi, peningkatan
kualitas Pendidikan dan keefektifan pola transmigrasi dapat memperbaiki
kuterpurukan dalam mengurus kepadatan penduduk yang semakin hari
kian membludak.Oleh karena pertumbuhan penduduk dipengaruhi Tingkat
pendidikan, Penyakit yang Berkaitan dengan Lingkungan Hidup, Kelaparan,
Kemiskinan dan Keterbelakangan. Maka kita harus bisa memperbaiki semua masalah
itu,dan mulai mencari jalan keluar yang terbaik agar semua permasalahan
dinegara kita bia terselesaikan.Dan masyarakatnya pun bisa hidup
dengan sejahtera, karena tidak dipungkiri bahwa Indonesia merupakan Negara yang
kaya akan Sumber Daya Alam. Jadi tidak masuk akal kalau masyarakatnya
kebanyakan hidup dibawah garis kemiskinan.
3.2 Saran
Saran yang dapat
penulis berikan khususnya kepada pemerintah Indonesia sebagai para penentu
kebijakan ialah agar dengan serius melihat perkembangan penduduk di Indonesia
yang tergolong besar sebagai salah satu masalah penting yang sangat
mempengaruhi stabilitas negara, contohnya pada ketersediaan pangan.
Ketersediaan pangan yang cukup tentu akan membantu menghasilkan sumber daya
manusia yang berkualitas
DAFTAR PUSTAKA
Komentar
Posting Komentar